Oleh Anggi Afriansyah
Greg Barton penulis Gusdur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid dalam
beberapa bagian bukunya menuliskan tentang kegandrungan Gus Dur membaca
buku. Melalui catatan Barton kita dapat belajar betapa gemar dan
cintanya Gus Dur terhadap buku. Kekuatan membaca Gus Dur seharusnya
menginspirasi setiap santri di pesantren, para siswa secara umum yang
sedang berjuang menggapai pengetahuan.
Gus Dur
membaca buku jauh lebih banyak dibandingkan dengan sebayanya. Rumahnya
penuh dengan buku. Apalagi Gus Dur berasal dari keluarga pencinta ilmu
dan ahli ilmu. sebagai cucu dari KH Hasyim Asyari dan anak dari Kiai
Wahid Hasyim tak mengherankan jika Gus Dur sudah sangat senang membaca
di usianya yang sanga belia.
Ketika kuliah di
Universitas Al Azhar salah satu tempat kegemarannya adalah perpustakaan.
Ia terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas
Kairo, atau di perpustakaan Perancis.
Gus Dur
terbiasa membaca di mana saja, apa saja, dan di mana saja, tanpa memilih
tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus ia membaca. Tak ada
buku, potongan koranpun ia baca.
Bacaannya
luas, tak sekedar kajian keagamaan. Ia membaca semua karya William
Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John
Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, dan Pushkin. Ia juga membaca karya
Marx dan Lenin.
Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan
kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi
baginya merupakan sekolah untuk menyempurnakan pengetahuan Bahasa Arab
juga debat-debat intelektualnya.
Ketika
melanjutkan kuliahnya di Baghdad, kecintaannya terhadap buku semakin
terakomodir. Apalagi di Universitas Baghdad mahasiswa diharapkan untuk
berpikir kritis dan banyak membaca.
Semangat
membaca Gus Dur memang luar biasa. Ia membaca bahkan sampai larut malam.
Sehingga seringkali ia harus terkantuk-kantuk ketika kuliah. Di tengah
padatnya aktivitas ia masih mengatur jadwal membacanya. Setiap sore ia
sudah di perpustakaan universitas untuk membaca.
Selain
pembaca yang tangguh, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat
produktif. Sejak mahasiswa ia menulis esai untuk beragam majalah maupun
surat kabar. Karya-karya tersebar luas dan dapat kita nikmati hingga
saat ini.
Belajar dari Gus Dur
Kita
tentu saja dapat banyak belajar dari seorang Gus Dur. Keteguhannya
mencintai bangsa ini, membela mereka yang terpinggirkan tentu tak usah
diragukan lagi. Aspek yang sering dilupakan adalah bagaimana kemampuan
Gus Dur dalam membaca dan mengkaji beragam perspektif keilmuan. Membaca
sebanyak-banyaknya buku yang tentu saja akan membuka kekayaan perspektif
dalam memandang persoalan.
Keluwesan
berpikirnya didukung oleh tradisi kuatnya membaca beragam buku. Ketika
mahasiswa ia tak pernah memikirkan berapa uang yang yang ia miliki. Ia
selalu memiliki uang yang cukup. Apalagi ia sudah menjadi salah satu
kolumnis yang karyanya tersebar di berbagi media. Ia juga sudah aktif
bekerja untuk kedutaan ataupun lembaga lainnya yang memanfaatkan
kemampuan berbahasa arabnya yang sangat bagus.
Seperti
yang dikisahkan oleh Barton, yang ada di benak Gus Dur adalah bagaimana
ia memiliki uang untuk membeli buku dan menonton film. Lucunya, untuk
mengelola keuangan ia serahkan kepada sahabat karibnya, Mahfudz Ridwan,
mahasiswa asal Salatiga. Bahkan uang tersebut kadang digunakan Mahfudz
untuk membantu mahasiwa lain yang kekurangan dana. Ia tak pernah
memperdulikan uang, baginya yang penting ketika hendak membeli buku uang
tersebut harus ada.
Gus Dur juga menunjukan
kepada kita betapa ia memiliki pikiran terbuka dan ide-ide besar karena
gemarnya ia melahap segala jenis bacaan. Seperti tokoh pendiri bangsa,
Gus Dur sangat haus terhadap bahan bacaan. Catatan menarik diungkap
Najwa Shihab dalam tulisannya di Kompas (18/8), Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku.
Pada salah satu bagian ia menulis bahwa para tokoh bangsa merupakan
orang-orang dengan pikiran terbuka dengan kepala penuh ide-ide besar
yang membaca karya-karya besar dari berbagai belahan dunia.
Catatan ini patut direnungkan bersama. Apalagi
saat ini kita cenderung malas untuk membaca. Sehingga mudah untuk
menuduh dan menghakimi mereka yang berbeda ideologi, keyakinan
keagamaan, madzhab, kelas sosial, bahkan beda jamaah pengajian. Malas
membaca akut menjaringi beragam kalangan masyarakat.
Kita lebih gemar membaca status, cuitan, broadcast di
media sosial dibanding membaca Al-Quran, kitab-kita karya ulama, maupun
buku-buku karya penulis-penulis besar. Kita gemar menulis pesan-pesan
penuh kebencian dibanding menuliskan kisah-kisah inspiratif penuh makna.
Juga menyebarkan pesan-pesan penuh hasutan tanpa berpikir dan menakar
serta mencari tahu kebenaraan akan pesan tersebut. Kita malas
mendiskusikan dan mendialogkan buku-buku tebal karena dianggap tak
praktis dan membuang waktu saja. Mendiskusikan beragam hal dengan basis
keyakinan diri semata bukan pada kematangan berpikir hasil membaca.
Padahal ayat Al-Quran pertama yang turun memerintahkan kita untuk iqra, baca!
Tak
heran jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian
mendeklarasikan Gerakan Literasi Sekolah untuk membudayakan tradisi
membaca dan menulis. Dari data UNESCO tahun 2012 misalnya menyebutkan
indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti dari
setiap 1.000 penduduk hanya satu orang yang berminat membaca. Data
tersebut sungguh memprihatinkan
Melalui Gus Dur
kita belajar agar tak selalu puas membaca dan belajar. Gus Dur
mengajarkan kepada kita betapa pentingnya seseorang harus aktif membaca.
Membaca beragam genre buku, beragam perspektif, dan belajar dari
kehidupan. Tidak hanya terpaku pada ruang-ruang kelas yang formil. Gus
Dur, seorang otodidak yang memberikan banyak pembelajaran bagi kita agar
terus memperbahrui pemahaman atas beragam hal, tanpa pernah berhenti.
Anggi Afriansyah
Alumni Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Saat ini menjadi Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPISumber Nu Online
Komentar
Posting Komentar