oleh: Eko Prasetyo
Kini tataplah wajah para pendiri republik ini. Tak ada kemewahan yang tampak di wajahnya. Air muka mereka menyiratkan harapan dan kehendak. Harapan bahwa negeri ini bisa dibangun dengan cara mandiri dan kehendak untuk membuat bangsa ini bisa punya pengaruh. Keyakinan itu kini rontok karena bangsa ini terlanjur terbelit dalam hutang dan sulit untuk menampik kehendak bangsa lain. Seperti kita ditampar melihat bangsa ini bingung untuk membuat rakyatnya sejahtera: diganti menteri, diganti kebijakan, hingga diganti kurikulum. Kita kehabisan akal karena kita tak punya gagasan, ide dan keberanian untuk mengambil jalan baru. Saatnya kalian sebagai mahasiswa memutus rantai kegelapan ini. Tak hanya dengan belajar tapi bergaul serta berpetualang melihat kehidupan rakyat miskin yang sebenarnya. Biarkan amarah kalian berkobar melihat ketidak-adilan dan jangan takut jika kalian memang punya keinginan untuk membela mereka. Mungkin tak ada dukungan atau mungkin kalian dijatuhi hukuman. Tapi sejarah mencatat bahwa itu adalah ongkos terindah dari sebuah posisi perjuangan.
Kini langit kampus itu akan jadi saksi pertumbuhan keyakinanmu. Jejak jejak muda seperti apa yang hendak kamu toreh. Tiap jejak itu akan jadi butiran keyakinan yang kelak akan diam-diam membentukmu. Jika sikap berani yang kamu tanam niscaya kamu akan berkembang tanpa rasa takut. Kalau sikap empati yang kamu semai kelak kamu akan jadi manusia yang peka dan mudah tersentuh. Oleh penderitaan, terhadap ketidak-adilan dan atas semua bentuk kebohongan. Maka jadilah mahasiswa yang tak hanya berharap meraih gelar sarjana. Juga jadilah mahasiswa yang tak berambisi menggapai nilai tinggi saja. Ingat-ingatlah bahwa tiap anak muda bisa menoreh sejarah berharga untuk diwariskan pada generasi berikutnya: Tan Malaka memberi ilham tentang Kemerdekaan 100% tanpa kompromi, Soekarno meneguhkan hutang budi bangsa pada kaum marhaen serta Semaoen meneguhkan hikayat kaum terpelajar yang menolak berhamba pada kaum feodal. Mereka diilhami bukan oleh buku kuliah, tapi petualangan dan perjumpaan dengan masalah. Maka tak heran mereka dengan akrab ide-ide progresif yang dimuat dalam karya-karya kiri.
Sekali lagi jangan mau ditipu oleh propaganda. Yang bilang kiri itu atheis. Yang mengatakan kiri itu bahaya. Jika jadi mahasiswa selalu harus waspada, maka apa bedanya kamu dengan para serdadu? Dimana sloganya selalu pakai istilah harga mati dan ucapanya dibumbui oleh bahaya. Maka sejak jadi mahasiswa buanglah kebiasaan tak terdidik itu. Yang selalu mudah percaya oleh ancaman dan gampang meyakini sesuatu yang tanpa bukti. Tantanglah semua yang kamu anggap tidak ada dasar sejarah dan akal. Beranikan dirimu untuk menerobos tabir-tabir ketakutan yang diwariskan oleh penguasa masa lampau. Meski waktumu tak panjang berusahalah untuk mendobrak tatanan buntu ini. Sebab jika kamu mampu meruntuhkan tembok itu, sedikit saja, maka sesungguhnya kamu sudah memberi jalan bagi petualang berikutnya. Mahasiswa baru yang terus terlibat menyudahi tatanan yang usang.
Selamat datang para petualang yang hidup tidak untuk ‘gelar’ tapi ‘petualangan dan perlawanan’. Selamat datang mahasiswa baru.
Sumber. Aktivisi
Kini tataplah wajah para pendiri republik ini. Tak ada kemewahan yang tampak di wajahnya. Air muka mereka menyiratkan harapan dan kehendak. Harapan bahwa negeri ini bisa dibangun dengan cara mandiri dan kehendak untuk membuat bangsa ini bisa punya pengaruh. Keyakinan itu kini rontok karena bangsa ini terlanjur terbelit dalam hutang dan sulit untuk menampik kehendak bangsa lain. Seperti kita ditampar melihat bangsa ini bingung untuk membuat rakyatnya sejahtera: diganti menteri, diganti kebijakan, hingga diganti kurikulum. Kita kehabisan akal karena kita tak punya gagasan, ide dan keberanian untuk mengambil jalan baru. Saatnya kalian sebagai mahasiswa memutus rantai kegelapan ini. Tak hanya dengan belajar tapi bergaul serta berpetualang melihat kehidupan rakyat miskin yang sebenarnya. Biarkan amarah kalian berkobar melihat ketidak-adilan dan jangan takut jika kalian memang punya keinginan untuk membela mereka. Mungkin tak ada dukungan atau mungkin kalian dijatuhi hukuman. Tapi sejarah mencatat bahwa itu adalah ongkos terindah dari sebuah posisi perjuangan.
Kini langit kampus itu akan jadi saksi pertumbuhan keyakinanmu. Jejak jejak muda seperti apa yang hendak kamu toreh. Tiap jejak itu akan jadi butiran keyakinan yang kelak akan diam-diam membentukmu. Jika sikap berani yang kamu tanam niscaya kamu akan berkembang tanpa rasa takut. Kalau sikap empati yang kamu semai kelak kamu akan jadi manusia yang peka dan mudah tersentuh. Oleh penderitaan, terhadap ketidak-adilan dan atas semua bentuk kebohongan. Maka jadilah mahasiswa yang tak hanya berharap meraih gelar sarjana. Juga jadilah mahasiswa yang tak berambisi menggapai nilai tinggi saja. Ingat-ingatlah bahwa tiap anak muda bisa menoreh sejarah berharga untuk diwariskan pada generasi berikutnya: Tan Malaka memberi ilham tentang Kemerdekaan 100% tanpa kompromi, Soekarno meneguhkan hutang budi bangsa pada kaum marhaen serta Semaoen meneguhkan hikayat kaum terpelajar yang menolak berhamba pada kaum feodal. Mereka diilhami bukan oleh buku kuliah, tapi petualangan dan perjumpaan dengan masalah. Maka tak heran mereka dengan akrab ide-ide progresif yang dimuat dalam karya-karya kiri.
Sekali lagi jangan mau ditipu oleh propaganda. Yang bilang kiri itu atheis. Yang mengatakan kiri itu bahaya. Jika jadi mahasiswa selalu harus waspada, maka apa bedanya kamu dengan para serdadu? Dimana sloganya selalu pakai istilah harga mati dan ucapanya dibumbui oleh bahaya. Maka sejak jadi mahasiswa buanglah kebiasaan tak terdidik itu. Yang selalu mudah percaya oleh ancaman dan gampang meyakini sesuatu yang tanpa bukti. Tantanglah semua yang kamu anggap tidak ada dasar sejarah dan akal. Beranikan dirimu untuk menerobos tabir-tabir ketakutan yang diwariskan oleh penguasa masa lampau. Meski waktumu tak panjang berusahalah untuk mendobrak tatanan buntu ini. Sebab jika kamu mampu meruntuhkan tembok itu, sedikit saja, maka sesungguhnya kamu sudah memberi jalan bagi petualang berikutnya. Mahasiswa baru yang terus terlibat menyudahi tatanan yang usang.
Selamat datang para petualang yang hidup tidak untuk ‘gelar’ tapi ‘petualangan dan perlawanan’. Selamat datang mahasiswa baru.
Sumber. Aktivisi
Komentar
Posting Komentar